Thursday, May 31, 2012

Jalan Menuju Kebenaran

Setiap orang selalu mencari dan berusaha menemukan kebenaran dalam hidup ini, entah kebenaran dalam agama, kebenaran dalam ilmu pengetahuan, kebenaran dalam menjalin hubungan dengan sesama, maupun kebenaran dalam pekerjaan. Oleh karena itu, setiap orang menempuh cara dan jalannya masing-masing demi tiba pada kebenaran itu. Sebagian besar orang menggunakan pengalaman hidupnya atau perasaannya atau kesaksian dari orang lain (khususnya otoritas tertentu), bahkan juga kombinasi dari ketiga cara tersebut untuk sampai pada kebenaran yang dirindukannya. Cara-cara seperti bisa saja menolong orang untuk menemukan kebenaran, tetapi hanya terbatas pada hubungan dengan sesama ataupun dalam pekerjaan. Namun, cara-cara itu pun tidaklah pasti serta-merta dapat diterapkan seperti jika dialami oleh orang lain. Terlebih, cara-cara seperti itu sama sekali tidak dapat diandalkan jika orang hendak menemukan kebenaran di segala hal dalam kehidupan ini.

Sejarah telah menyaksikan dan mencatat bagaimana sebagian besar orang telah salah mengenai begitu banyak hal. Salah mengenai makhluk halus (hantu, tuyul, gendoruwo, kuntilanak, kalong wewe, pocong, dlsb). Salah mengenai obat-obatan. Salah mengenai kesehatan. Salah mengenai alam. Salah mengenai teori politik. Salah mengenai ekonomi. Salah mengenai psikologi. Salah mengenai lawan jenis. Salah mengenai jagat raya. Bahkan salah mengenai sejarah. Kebanyakan orang telah salah memahami sebagian besar hal yang terjadi di sekitar dirinya termasuk hidupnya sendiri.

Mengapa terjadi hal demikian? Karena sebagian besar orang telah menggunakan alat yang salah setiap kali hendak menemukan kebenaran yang dirindukannya. “Perasaan” manusia bukanlah alat yang tepat untuk menemukan dan memahami kebenaran. Itu sama saja dengan persoalan matematika yang hendak dijawab menggunakan jantung anda. Intinya, demi menjawab dan menjelaskan suatu hal, maka diperlukan alat yang tepat supaya tidak tersesat atau bahkan ngawur.

Pengalaman hidup pribadi seseorang juga tidak dapat digunakan sebagai alat (tolok ukur) untuk menemukan dan memahami kebenaran. Banyak orang memiliki pengalaman yang sama mengenai hal tertentu, tetapi mereka memberikan kesan dan tanggapan yang saling berbeda. Pengalaman seseorang lebih banyak berbicara dalam dan dari konteks sejarah, kepercayaan, perasaan, dan sudut pandang orang tersebut daripada berbicara mengenai kebenaran yang “terjadi di konteks yang lebih luas”, yakni dunia ini.

Kesaksian, pernyataan, atau pandangan orang lain pun tidaklah lebih baik dibandingkan “perasaan” dan pengalaman pribadi. Artinya, kesaksian yang berasal dari orang lain bukanlah cara yang tepat dalam upaya seseorang menemukan dan memahami kebenaran dalam konteks yang lebih luas.

Setidaknya ada dua masalah yang terkait dengan hal ini. Pertama, banyak orang tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai suatu hal. Namun, kekurangan dan kelemahan tersebut tidak urung membuat orang tersebut terus berbicara layaknya seseorang yang telah mengetahui dan memahami dengan benar suatu hal tersebut. Ditambah, orang yang tidak kritis menerima dan mempercayai pandangan orang tersebut. Harus selalu disadari dan diingat bahwa setiap orang memiliki prasangka-prasangka walaupun dalam tingkatan yang beragam. Inilah mengapa seharusnya orang juga tidak tergesa-gesa menerima dan mempercayai pandangan otoritas-otoritas yang ada, seperti orangtua, keluarga, guru/dosen, dan pemuka agama. Masalah kedua adalah setiap orang memiliki tujuan atau agenda yang hendak dicapainya. Oleh karena itu, bisa saja manusia mencoba menipu,  memanipulasi, bahkan mengeksploitasi sesamanya demi tercapainya tujuan tersebut (misalnya untuk popularitas dan memperkaya diri), yang semuanya mengakibatkan kerugian (pembodohan atau eksploitasi) di pihak yang mengalami manipulasi.

Oleh karena itu, jelas, pengalaman pribadi, “perasaan”, kesaksian, dan pernyataan orang lain bukanlah cara yang tepat untuk menemukan dan memahami kebenaran yang ada dalam dunia bahkan jagat raya ini. Ketiga cara tersebut sangat mudah membuat manusia tersesat atau tidak menyadari jika hal yang selama ini dipercayainya ternyata tidak benar. Dengan demikian, orang (tentu yang peduli dengan kebenaran) memerlukan cara yang tepat dan benar demi menemukan dan memahami kebenaran yang terjadi di dalam jagat raya, khususnya dunia ini. Cara itu disebut logika karena dengan menggunakan logika seorang diharapkan mampu menyaring berbagai hal yang diterimanya, baik melalui penglihatan, pendengaran, maupun pengalamannya sebelum tiba sampai pada kesimpulan benar atau salah.

(Andy Milly)

Sumber: FaktaIlmiah.com

No comments:

Post a Comment