Wednesday, May 30, 2012

Tuhan dan Sains Modern (Part 2): Hakikat Sains

Berikut adalah bagian kedua dari sebuah makalah panjang yang ditulis seorang teman untuk bahan diskusi lintas disiplin dengan tema Tuhan dan masa modern. Bagian ini membahas isu epistemologi dalam sains dan kaitannya dengan Tuhan.

Bagian pertama bisa dibaca disini: Part 1

Menurut Einstein, sains adalah usaha membuat keanekaragaman yang kacau dalam pengalaman inderawi kita menjadi sebuah sistem pemikiran yang seragam secara logis (Einstein, 1954). Definisi ini membatasi sains ke dalam dua batasan: pertama, ia harus bersangkut paut dengan pengalaman inderawi. Kedua, ia harus membentuk sistem pemikiran yang konsisten. Batasan pertama sering disebut empiris dan batasan kedua disebut teoritis. Inilah dua pilar utama sains. Kedua pilar ini kemudian dibangun atas landasan yang tersirat dalam definisi Einstein di atas, yaitu logika.

Logika adalah asas kelurusan berpikir (Sudarminta, 2002: 40). Pengalaman inderawi dan sistem pemikiran yang menyusun sains berinteraksi dengan perangkat kelurusan berpikir ini. Ada tiga cara bagaimana dua unsur sains tersebut berinteraksi yaitu cara deduktif, induktif, dan abduktif. Bernalar deduktif menarik kesimpulan dari sebuah pernyataan atau hukum umum. Bernalar induktif adalah menarik kesimpulan dari beberapa pernyataan atau kejadian khusus yang mirip. Bernalar abduktif adalah menarik kesimpulan dari sebuah dugaan yang kebenarannya masih harus diuji coba. Dengan ketiga bentuk bernalar ini, beserta logika, maka sainspun berkembang.

Pada perkembangannya, sains memiliki tujuan ekstrinsik dan tujuan intrinsik (Nola dan Irzik, 2005:189). Tujuan ekstrinsik adalah tujuan demi kepentingan manusia itu sendiri entah untuk berperang atau menciptakan perdamaian. Tujuan ekstrinsik terikat pada siapa ilmuan yang mengerjakan sains itu. Sama halnya dengan pisau, tujuan ekstrinsiknya adalah memotong sayur atau menikam manusia, tergantung siapa penggunanya.

Tujuan intrinsik adalah tujuan sains untuk sains itu sendiri. Ini adalah sesuatu yang ideal dan dapat diringkas sebagai menjaga kehidupan sains itu sendiri. Tujuan ini antara lain: (1) keterujian, (2) Memperoleh kebenaran dan menghindari kesalahan, (3) Prediksi, dan (4) kemajuan.

Keterujian (testability) merujuk pada kemampuan sains untuk menguji pernyataan. Hal ini dapat ditarik dari pandangan falsifikasi yang diajukan oleh filsuf Karl Popper. Menurutnya, “karakteristik pembeda dari pernyataan empiris (adalah) kerentanannya pada revisi – faktanya ia dapat dikritik dan diganti oleh yang lebih baik” (Popper, 1959:49). Sains hanya berurusan dengan pernyataan empiris, yaitu pernyataan yang hanya dapat difalsifikasi. Sebuah pernyataan yang tidak dapat dikritik bukanlah pernyataan ilmiah dan bukan urusan dari sains. Dengan kata lain, sebuah teori yang tidak dapat diuji benar-salahnya bukanlah teori yang ilmiah.  Agar dapat diuji, sebuah teori harus berkaitan dengan dunia nyata dan harus bersifat objektif. Hal ini sejalan juga dengan pendapat filsuf Quine dan Ullian (1978:79) yang disebut ketertolakan. Ketertolakan berarti sebuah pernyataan harus dapat ditolak oleh suatu pernyataan jika pernyataan penolak tersebut benar.

Sifat keterujian ini menjadikan sebuah makalah penelitian sains berbeda dengan makalah bidang ilmu lainnya. Sebuah makalah penelitian sains mengandung bagian ‘metode’ (Gorsuch, 2002). Bagian metode ini merupakan bagian wajib dan menjadi inti dari sebuah karya ilmiah sains. Bagian metode memungkinkan orang lain meniru bagaimana penelitian dilakukan dan mengkonfirmasi kebenarannya. Ketika sebuah metode menemukan hasil dan para ilmuan lainnya, menggunakan metode yang sama, menemukan hasil yang sama, maka ia menjadi fakta.

Tujuan kedua, yaitu memperoleh kebenaran dan menghindari kesalahan adalah sebuah tujuan berpasangan. Memperoleh kebenaran dan menghindari kesalahan merupakan tujuan yang ideal. Pada prakteknya, tujuan sains adalah memaksimalkan jumlah kebenaran yang didapatkan dan meminimalkan jumlah kesalahan yang diperoleh. Hal ini berkaitan dengan teori sebagai senjata sains. Sebuah teori terdiri dari beberapa pernyataan, sebagian empiris dan sebagian tidak. Jika sebuah teori memiliki proposisi yang seluruhnya empiris dan benarpun, ia tidak dipandang sebagai benar mewakili realitas. Mungkin ada sebuah teori lain yang memiliki proposisi lebih banyak, semua empiris, dan semua terbukti benar. Hal ini telah terjadi pada kasus teori gerak Newton yang digantikan oleh teori relativitas Einstein.

Tujuan ketiga adalah prediksi. Prediksi merupakan tujuan tertua dari sains. Sebagai contoh, para astronom di masa Mesir Kuno tidak bicara tentang falsifikasi, tapi bicara apakah sebuah teori mampu memprediksi sesuatu. Di sisi lain, Marx dan Comte tampaknya memandang prediksi sebagai tahap final dimana ilmu melakukan prediksi dan memegang kedaulatan mutlak atas kepastian dan kebenaran (Watloly, 2001:82).  Fakta yang diperoleh sebelumnya lewat metode, kemudian dimasukkan dalam teori dan teori yang telah dimasuki fakta tersebut kemudian dituntut menghasilkan prediksi. Jika teori tersebut mampu memprediksi sesuatu, katakanlah kapan terjadinya gerhana, teori tersebut dapat dipandang ilmiah. Lebih lanjut, jika prediksi teori ilmiah tersebut benar dan konsisten, maka ia dipandang sebagai teori yang benar. Beberapa teori tandingannya yang tidak mampu memprediksi hal tersebut akan diragukan. Pada gilirannya, hanya satu dua teori saja yang dipandang kokoh dan teori-teori lain yang tidak memiliki kekuatan penjelas atau terbukti salah akan dihapus. Hal ini telah ditunjukkan dalam kasus teori evolusi. Pada abad ke-19, ada tujuh versi teori evolusi (Mayr, 2001:117). Seiring waktu, hanya satu dari tujuh teori ini yang bertahan hingga sekarang yaitu teori evolusi dengan seleksi alam dari Darwin. Teori evolusi lain, seperti Lamarck, Haeckel, Neo-Lamarckian, Huxley, De Vries, dan Morgan, gugur dan tak lagi dipandang. Sains terlihat tidak menyukai pluralisme teori karena mengejar kebenaran ini. Penolakan atas pluralisme teori inipun membawa pada tujuan sains selanjutnya yaitu kemajuan.

Tujuan sains yang keempat adalah kemajuan. Sains berusaha mencapai keseluruhan. Teori-teori berkembang dari satu ranah menuju ke ranah yang lebih luas. Teori tentang bulan harus dapat diselaraskan dengan teori tentang matahari dan membentuk teori yang lebih luas tentang tata surya misalkan. Hal ini terus beranjak hingga teori mencapai puncaknya yaitu bicara tentang keseluruhan alam semesta. Dalam sains, hirarki teori dapat diperluas terus mencapai detail dan mencapai keluasan. Mulai dari ilmu sosial yang bicara tentang masyarakat manusia menuju ke psikologi yang bicara sifat manusia, terus menanjak ke biologi hingga mencakup seluruh kehidupan. Beberapa pakar mengharap suatu saat seluruh sains akan lengkap dan mencapai kemandekan dimana segalanya telah dipelajari dan diketahui (Horgan, 1997). Hal ini tergambar dengan baik dalam peta sains yang dibuat oleh Tegmark (2007).

 
Gambar 1: Peta Sains (diadaptasi dari Tegmark, 2007)

Dalam pijakan dasar di atas, sains hidup lewat metode ilmiah. Metode ilmiah yang digunakan di masa sekarang berangkat dari dua filsuf masa renaisans yaitu Bacon dengan bukunya Novum Organum dan Descartes dalam bukunya Discourse on the Method of Properly Conducting One’s Reason and of Seeking the Truth in the Sciences. Metode ilmiah yang dirintis oleh mereka berdua membagi proses sains ke dalam dua tahap: empiris dan statistik (Alper, 2008:15).

Pada tahap empiris, manusia mengindera alam. Ia mencari pola-pola tertentu di alam seperti kesadaran kalau matahari selalu terbit dan tenggelam atau eksperimen atau pengamatan modern yang melibatkan alat bantu inderawi seperti teleskop, mikroskop, dan sebagainya. Ia mencoba membuat penjelasan atas peristiwa tersebut dan mengujinya dengan tahap kedua, yaitu tahap statistik. Tahap statistik bertujuan memeriksa apakah penjelasan yang dibuatnya itu benar atau salah dengan mengajukan sebuah prediksi yang akan diuji. Tahap statistik tidak harus diartikan sebuah uji statistik seperti yang dilakukan piranti komputasi seperti SPSS atau Excel. Sebuah pengamatan yang konsisten kalau matahari selalu terbit dan tenggelam sudah menjadi bentuk uji statistik dengan kepastian 100%. Tentu saja, sains sangat hati-hati memberikan nilai 100% ini. Dalam penelitian-penelitian modern, para ilmuan paling tinggi memberikan kepastian 99.9999….%. Sebuah prediksi dikatakan lemah jika ia hanya punya kepastian di bawah 95%.

Secara filsafat, sains bertolak belakang dengan humanisme. Sains memandang manusia hanya sebagai sebuah hal materiil (materialisme), jiwa dipandang hanya seperangkat jaringan input, indera, syaraf, dan otak. Manusia tidak dipandang superior dan terpisah dari alam, namun sebagai sesuatu komponen alam dan tidak memiliki kelebihan dari komponen alamiah lainnya. Humanisme sebaliknya, memuliakan manusia atas alam (antroposentrisme) yang pada bentuk ekstrimnya memunculkan eksistensialisme yang memuliakan individu manusia atas alam. Baik buruknya aliran filsafati ini kita serahkan pada filsafat moral.

Eratnya sains dengan materialisme karena sains berusaha menjelaskan alam semesta dengan sebab-sebab natural. Sebab-sebab natural yang dimaksud disini adalah sesuatu yang dapat diperiksa kebenarannya lewat metode yang objektif dan memenuhi tujuan-tujuan internal sains yang telah disebutkan sebelumnya. Sesuatu dapat dipandang objektif jika ia dapat didefinisikan dengan baik. Pendefinisian pada dasarnya adalah pembatasan sifat suatu konsep sehingga ia dapat diperiksa oleh berbagai pihak secara konsisten (objektif). Tuhan tidak dapat didefinisikan karena mendefinisikan Tuhan berarti membatasinya dengan seperangkat sifat. Kalaupun didefinisikan, seperti sifat-sifat tertentu yang diberikan oleh agama-agama kepada Tuhannya, tidak ada cara yang objektif untuk memilih mana Tuhan dari agama mana yang dimaksud.
Lanjut ke Part 3

Referensi:
Alper, A. 2008. The God Part of the Brain: A Scientific Interpretation of Human Spirituality and God. Naperville: Sourcebooks, Inc.
Einstein, A. 1954. Ideas and Opinions. New York: Crown Publishers
Gorsuch, R. L. 2002. The Pyramids of Sciences and of Humanities, American Behavioral Scientist 45, 1822–38.
Horgan, J. 1997. The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of the Scientific Age. New York: Bantam Books.
Mayr, E. 2001. What Evolution Is? Orion Publishing Group.
Nola, R., Irzik, G. 2005. Philosophy, Science, Education, and Culture. Amsterdam: Springer.
Popper, K. 1959. The Logic of Scientific Discovery. London: Routledge
Quine, W., Ullian, J. 1978. The Web of Belief. New York: Random House
Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar. Yogyakarta: Kanisius
Tegmark, M. 2007. The Multiverse Hierarchy. Dalam Universe or Multiverse? B. Carr (ed), Cambridge: Cambridge University Press
Watloly, A. 2001. Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi Secara Kultural. Jakarta: Kanisius.

Sumber: FaktaIlmiah.com

No comments:

Post a Comment